About English

English Language and Literature

Jumat, 04 November 2011

translation theories

            Translate atau menerjemahkan adalah suatu yang mutlak diperlukan dalam pembelajaran bahasa recipient atau bisa disebut second language. Ada beberapa pendapat tentang pengertian translate itu sendiri yang akhirnya dapat di simpulkan bahwa translate ialah menransfer atau menyamakan bahasa sumber (source language) atau bahasa yang dipelajari ke bahasa penerima (target language) dengan menimbang kesamaan makna, gramatical, dan maksud. secara singkat translate tak cukup dengan hanya mengartikan per kata sebagai contoh, pada kalimat "the rain is cat and dog". yang mana kalimat disamping tak cukup bila diartikan perkata karena kalimat tersebut mengandung idiom "cat and dog" yang bisa diartikan lebat. secara singkat definisi terjemahan yang lebih mendekati benar ialah menransfer message (pesan) dari sumber bahasa ke target bahasa. yang mana inti dari terjemahan adalah maksud global, bukan kata per kata. macam-macam bentuk terjemahan atau translate ada beberapa.
Berdasarkan tujuan penerjemahan salah seorang pakar menggolongkannya menjadi 4 :

  1. Terjemahan pragmatis : terjemahan yang mementingkan ketepatan/akurasi informasi.
  2. Terjemahan Astetis-Puitis : terjemahan yang mementingkan dampak efektif, emosi dan nilai rasa dari satu versi bahasa yang orisinal.
  3. Terjemahan Etnografis : terjemahan yang bertujuan menjelaskan konteks budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran.
  4. Terjemahan Linguistik : terjemahan yang mementingkan kesetaraan arti dari unsur-unsur morfem dan bentuk gramatikal dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran.
Berdasarkan bahasa sumber sendiri terjemahan atau translate dibagi menjadi 4 :
  1. Terjemahan kata demi kata (word for word translation). Penerjemahan jenis ini dianggap yang paling dekat dengan bahasa sumber. Dalam artian terjemahan ini adalah terjemahan kaku karena terlalu dekat dengan bahasa sumber. Urutan kata dalam teks bahasa sumber tetap dipertahankan, kata-kata diterjemahkan menurut makna dasarnya diluar konteks. contohnya seperti kalimat sebelumnya the rain was cat and dog yang bila diartikan secara word by word akan berarti hujannya adalah kucing dan anjing.
  2.  Terjemahan Struktural (literal translation). Dalam terjemahan ini konstruksi gramatikal bahasa sumber dikonversikan ke dalam padanannya dalam bahasa sasaran. contoh sederhana bisa dilihat pada kalimat "I've been right here waiting for you" yang bila diartikan secara struktural akan berarti "saya benar-benar telah sedang menunggumu" yang mana kata "telah sedang" tidak begitu signifikan bila yang kita mau adalah maksudnya, terjemahan ini berfungsi agar kita tau secara detail masalah atau hal lain dalam bahasa sumber tersebut.
  3. Terjemahan setia (faithful translation). dalam terjemahan ini tidak begitu kami perjelas karena intinya hampir sama dengan dua pembagian di atas. inti dari terjemahan ini adalah dia tetap berpegang teguh pada sumber bahasa yang asli sehingga terjemahan ini pun masih kaku. dalam artian mudahnya penerjemah kurang bisa lues mengartikan karena tidak memakai bahasanya sendiri dan masih cenderung pada sumber bahasa aslinya.
  4. Terjamahan semantis (semantic teranslation). Berbeda dengan terjemahan setia. Terjemahan semantis lebih memperhitungkan unsur estetika teks bahasa sumber, dan kreatif dalam batas kewajaran. Selain itu terjemahan setia sifatnya masih terkait dengan bahasa sumber, sedangkan penerjemahan semantis lebih fleksibel.
Berdasarkan pada bahasa sasaran terjemahan juga dibagi menjadi 4 macam :
  1. Terjemahan adaptasi (adaptation). Terjemahan inilah yang dianggap paling bebas dan paling dekat kebahasaan sasaran. Terutama untuk jenis terjemahan drama dan puisi, tema, karakter dan alur biasanya dipertahankan. Dalam karangan ilmiah logikanya diutamakan, sedangkan contoh dikurangi atau ditiadakan.
  2. Terjemahan bebas (free trantation). Penerjemahan bebas adalah penulisan kembali tanpa melihat tanpa aslinya. Biasanya merupakan parafrase yang dapat lebih pendek atau lebih panjang dari aslinya, lebih mudahnya dalam jenis penerjemahan ini, penerjemah menggunakan bahasa sendiri dalam mengungkapkan maknanya.
  3. Terjemahan idiomatiuk (idiomatic translation). Dalam terjemahan jenis ini pesan bahasa sumber disampaikan kembali tetapi ada penyimpangan nuansa karena mengutamakan kosa kata sehari-hari dan idiom dan tidak ada di dalam bahasa sumber tetapi bisa dipakai dalam bahasa sasaran.
  4. Terjemahan komunikatif (communicative translation). Terjermahan ini berusaha menyampaikan makna kontekstual dari bahasa sumber sedemikian rupa, sehingga isi dan bahasanya dapat diterima dan dipahami oleh dunia pembaca bahasa sasaran. Terjemahan ini biasanya dianggap terjemahan yang ideal.

           Sedangkan langkah-langkah (proses) menerjemahkan telah dirumuskan oleh salah seorang pakar sesuai penjelasan dibawah ini.


Dr. Ronald H. Bathgate, dalam karangannya yang berjudul "A Survey of Translation Theory", mengungkapkan tujuh unsur, langkah atau bagian integral dari proses penerjemahan sebagai berikut ini: 1. Tuning (Penjajagan), 2. Analysis (Penguraian), 3. Understanding (Pemahaman), 
4. Terminology (Peristilahan), 5. Restructuring(Perakitan), 6. Checking (Pengecekan) dan 
7. Discussion (Pembicaraan) (A. Widyamartaya, 1989: 15). Sedangkan menurut Ibnu Burdah (2004: 29), menyebutkan bahwa secara garis besar, ada sedikitnya tiga tahapan kerja dalam proses menerjemah, yaitu: a. Penyelaman pesan naskah sumber yang khendak diterjemah, b. Penuangan pesan naskah sumber ke dalam bahasa sasaran dan c. Proses editing.
Jadi sebagaimana menurut Langgeng Budianto (2005: 4) penerjemah dapat menghasilkan suatu terjemahan bagus dan efektif apabila dalam penyampaian intensi penulis merupakan tujuan setiap proses penerjemahan. Keefektifan terjemahan ditentuakan oleh tiga faktor: 1. Derajat pengetahuan penerjemah, 2. Derajat pencapaian tujuan penerjemahan, dan 3. Derajat kepuasan penerjemah.





Kamis, 03 November 2011

Morphology and Phonology

dalam kajian linguistik dikenal istilah morphology dan phonology, dua hal yang patut dipertimbangkan dalam mempelajari linguistik, dalam hal ini terkhususkan pada bahasa inggris. fonologi merupakan cabang linguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan bahasa sebagai bunyi, sedangkan morfology merupakan cabang yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar dalam satuan gramatikal. sebagai contoh kita ambil kata "bersedih". dalam kata tersebut, secara fonologi terdiri atas 7 fonem (b,e,r,s,d,i,h), sedangkan secara morfologi kata tersebut terdiri atas 2 satuan minimal yaitu ber- dan sedih. sehingga yang diperhitungkan pada fonologi adalah fonemnya sedangkan dalam morfologi adalah satuan gramaticalnya (morferm). fonem disini ialah satuan terkecil bahasa yang masih bisa menunjukkan perbedaan makna,dan fonem disini berbentuk bunyi, contoh; antara kata "tikar" dan "takar" disini terdapat beda fonem, beda bunyi sekaligus arti. sedangkan morferm itu sendiri ialah satuan dari gramatical, disini morferm dibedakan menjadi morferm terikat dan morferm tidak terikat (bebas).  morferm terikat ialah morferm atau satuan yang tidak dapat berdiri sendiri dan bisa memiliki arti sendiri, sedangkan morferm bebas ialah morferm yang dapat berdiri sendiri karena telah mempunyai arti sendiri tanpa ada kata lain. contohnya kata "undo" undo (melepaskan) disini mempunyai dua morferm yaitu "un-" dan "do". "un-" dikatakan sebagai morferm terikat karena tanpa "do" ia tidak mempunyai arti sendiri / tidak bisa berdiri sendiri, sedangkan "do" tanpa kata lain pun dia bisa dan mempunyai arti dengan sendirinya yaitu "mengerjakan/bekerja". secara mudahnya dalam bahasa indonesia morferm terikat adalah selevel imbuhan. dalam pembahasan morferm selanjutnya bisa dilihat pada pembahasan lanjutan.

Selasa, 01 November 2011

Oral and Written

Dalam episode ini kita mencoba membahas tentang difference between oral language and written. oral dan written adalah termasuk aspek dalam sebuah bahasa, dalam kajian ini khususnya ialah bahasa internasional, English language. yang menurut saya kedua aspek ini adalah cara penyampaian maksud dari perorangan ke perorangan. oral yang sering kita kenal dengan lisan ialah penyampaian informasi secara langsung dengan tatap muka, sedangkan written sendiri disampaikan dengan goresan tinta dan semacamnya. secara penggunaan dan prakteknya, ternyata keduanya mempunyai perbedaan yang signifikan. perhatikan kalimat berikut ! "kamu sekarang  dimana ris?" "di pasar". bandingkan dengan "kamu sekarang dimana ris?" "saya sedang belanja di pasar sekarang". Dua contoh diatas mempunyai maksud yang sama dalam penyampaian informasi, kalimat pertama menunjukkan bahwa percakapan tersebut terjadi secara langsung atau dengan cara lisan, sedangkan pada kalimat kedua yang nampak structural, adalah kalimat dalam bentuk tertulis. sepintas dua hal di atas ialah remeh karena maksud dan informasi yang diberikan umumnya sama tanpa beda, tapi sayangnya ini berlaku dalam semua bahasa, begitu juga dalam bahasa inggris, contoh di atas tidak perlu terlalu dipikirkan karena terlalu remeh. contoh di atas hanyalah sebuah kilasan singkat yang menunjukkan bahwa antara lisan dan tertulis terdapat perbedaan. bagaimana bila dalam bahasa internasional saat ini? mungkin pernah kita alami atau sebagian dari kita menemukan ada yang ganjal dari yang telah kita peroleh dari bapak/ibu guru dengan praktek langsung pengguna bahasa. suatu aturan formal yang kita kenal dengan grammar sangat tidak berguna dan berbeda dengan percakapan asli seorang native speaker dari film-film yang telah kita tonton. dan mungkin sempat terlintas pertanyaan "kok bisa gitu?", berarti yang saya pelajari salah, atau lain sebagainya. maka itu menjadi tidak remeh setelah perbedaan yang kita alami dari bahasa asing, karena kita belum begitu paham tentang bahasa tersebut. tapi sebenarnya perbedaan tersebut wajar bagi mereka hanya saja dalam uraian di atas kita dapat mengetahui bahwasanya bahasa tertulis yang terkenal dengan grammar dalam English language adalah bahasa formal yang di ikat oleh aturan-aturan tertentu sehingga menjadikannya lebih sopan. seseorang pernah berkata bahwa bahasa tertulis bukanlah kejadian yang sedang berlangsung, sedangkan bahasa lisan ialah kejadian saat itu juga. dalam artian bahasa lisan ialah bahasa percakapan yang riil, nyata keadaan dan prakteknya. dari uraian singkat di atas, lalu apakah bahasa tertulis itu gak penting, berarti apakah belajar grammar hanya pekerjaan sia-sia saja atau secara jawa enthek-enthek i umur. mana yang lebih penting? toh kita belajar bahasa asing intinya agar kita bisa berkomunikasi dengan pengguna asli bahasa tersebut dan untuk take and give some information. tidak, belajar grammar bukanlah hal yang salah, grammar adalah suatu aturan yang mana kita ketahui bahwa aturan pada umumnya ialah untuk membawa kebaikan, yang mana sebuah aturan selalu bersifat formal, bila kita kaitkan dalam konteks bahasa, bahasa dalam written ini adalah bahasa resmi yang tentunya sangat harus dipergunakan bila kita berhadapan dalam situasi resmi dan dengan orang atau lawan yang berbeda, sebagai contoh sederhana jika saja seorang presiden bertanya kepada kita "dek, ibu/ bapak kemana?" apakah kita hanya akan menjawab    "ke pasar", andai kita mau melamar kerja di perkantoran apakah kita hanya akan bicara "pak, saya mau kerja disini, diterima nggak? ini berkas saya" contoh di samping memang sudah cukup dalam penyampaian maksud, tapi hal itu sangat terlalu buruk secara kaidah dan moral berbahasa. pada saat itulah sebuah aturan resmi bahasa yang dalam bahasa inggris diatur oleh grammar digunakan.