Translate atau menerjemahkan adalah suatu yang mutlak diperlukan dalam pembelajaran bahasa recipient atau bisa disebut second language. Ada beberapa pendapat tentang pengertian translate itu sendiri yang akhirnya dapat di simpulkan bahwa translate ialah menransfer atau menyamakan bahasa sumber (source language) atau bahasa yang dipelajari ke bahasa penerima (target language) dengan menimbang kesamaan makna, gramatical, dan maksud. secara singkat translate tak cukup dengan hanya mengartikan per kata sebagai contoh, pada kalimat "the rain is cat and dog". yang mana kalimat disamping tak cukup bila diartikan perkata karena kalimat tersebut mengandung idiom "cat and dog" yang bisa diartikan lebat. secara singkat definisi terjemahan yang lebih mendekati benar ialah menransfer message (pesan) dari sumber bahasa ke target bahasa. yang mana inti dari terjemahan adalah maksud global, bukan kata per kata. macam-macam bentuk terjemahan atau translate ada beberapa.Berdasarkan tujuan penerjemahan salah seorang pakar menggolongkannya menjadi 4 :
- Terjemahan pragmatis : terjemahan yang mementingkan ketepatan/akurasi informasi.
- Terjemahan Astetis-Puitis : terjemahan yang mementingkan dampak efektif, emosi dan nilai rasa dari satu versi bahasa yang orisinal.
- Terjemahan Etnografis : terjemahan yang bertujuan menjelaskan konteks budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran.
- Terjemahan Linguistik : terjemahan yang mementingkan kesetaraan arti dari unsur-unsur morfem dan bentuk gramatikal dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran.
Berdasarkan bahasa sumber sendiri terjemahan atau translate dibagi menjadi 4 :
- Terjemahan kata demi kata (word for word translation). Penerjemahan jenis ini dianggap yang paling dekat dengan bahasa sumber. Dalam artian terjemahan ini adalah terjemahan kaku karena terlalu dekat dengan bahasa sumber. Urutan kata dalam teks bahasa sumber tetap dipertahankan, kata-kata diterjemahkan menurut makna dasarnya diluar konteks. contohnya seperti kalimat sebelumnya the rain was cat and dog yang bila diartikan secara word by word akan berarti hujannya adalah kucing dan anjing.
- Terjemahan Struktural (literal translation). Dalam terjemahan ini konstruksi gramatikal bahasa sumber dikonversikan ke dalam padanannya dalam bahasa sasaran. contoh sederhana bisa dilihat pada kalimat "I've been right here waiting for you" yang bila diartikan secara struktural akan berarti "saya benar-benar telah sedang menunggumu" yang mana kata "telah sedang" tidak begitu signifikan bila yang kita mau adalah maksudnya, terjemahan ini berfungsi agar kita tau secara detail masalah atau hal lain dalam bahasa sumber tersebut.
- Terjemahan setia (faithful translation). dalam terjemahan ini tidak begitu kami perjelas karena intinya hampir sama dengan dua pembagian di atas. inti dari terjemahan ini adalah dia tetap berpegang teguh pada sumber bahasa yang asli sehingga terjemahan ini pun masih kaku. dalam artian mudahnya penerjemah kurang bisa lues mengartikan karena tidak memakai bahasanya sendiri dan masih cenderung pada sumber bahasa aslinya.
- Terjamahan semantis (semantic teranslation). Berbeda dengan terjemahan setia. Terjemahan semantis lebih memperhitungkan unsur estetika teks bahasa sumber, dan kreatif dalam batas kewajaran. Selain itu terjemahan setia sifatnya masih terkait dengan bahasa sumber, sedangkan penerjemahan semantis lebih fleksibel.
Berdasarkan pada bahasa sasaran terjemahan juga dibagi menjadi 4 macam :
- Terjemahan adaptasi (adaptation). Terjemahan inilah yang dianggap paling bebas dan paling dekat kebahasaan sasaran. Terutama untuk jenis terjemahan drama dan puisi, tema, karakter dan alur biasanya dipertahankan. Dalam karangan ilmiah logikanya diutamakan, sedangkan contoh dikurangi atau ditiadakan.
- Terjemahan bebas (free trantation). Penerjemahan bebas adalah penulisan kembali tanpa melihat tanpa aslinya. Biasanya merupakan parafrase yang dapat lebih pendek atau lebih panjang dari aslinya, lebih mudahnya dalam jenis penerjemahan ini, penerjemah menggunakan bahasa sendiri dalam mengungkapkan maknanya.
- Terjemahan idiomatiuk (idiomatic translation). Dalam terjemahan jenis ini pesan bahasa sumber disampaikan kembali tetapi ada penyimpangan nuansa karena mengutamakan kosa kata sehari-hari dan idiom dan tidak ada di dalam bahasa sumber tetapi bisa dipakai dalam bahasa sasaran.
- Terjemahan komunikatif (communicative translation). Terjermahan ini berusaha menyampaikan makna kontekstual dari bahasa sumber sedemikian rupa, sehingga isi dan bahasanya dapat diterima dan dipahami oleh dunia pembaca bahasa sasaran. Terjemahan ini biasanya dianggap terjemahan yang ideal.
Sedangkan langkah-langkah (proses) menerjemahkan telah dirumuskan oleh salah seorang pakar sesuai penjelasan dibawah ini.
Dr. Ronald H. Bathgate, dalam karangannya yang berjudul "A Survey of Translation Theory", mengungkapkan tujuh unsur, langkah atau bagian integral dari proses penerjemahan sebagai berikut ini: 1. Tuning (Penjajagan), 2. Analysis (Penguraian), 3. Understanding (Pemahaman),
4. Terminology (Peristilahan), 5. Restructuring(Perakitan), 6. Checking (Pengecekan) dan
7. Discussion (Pembicaraan) (A. Widyamartaya, 1989: 15). Sedangkan menurut Ibnu Burdah (2004: 29), menyebutkan bahwa secara garis besar, ada sedikitnya tiga tahapan kerja dalam proses menerjemah, yaitu: a. Penyelaman pesan naskah sumber yang khendak diterjemah, b. Penuangan pesan naskah sumber ke dalam bahasa sasaran dan c. Proses editing.
Jadi sebagaimana menurut Langgeng Budianto (2005: 4) penerjemah dapat menghasilkan suatu terjemahan bagus dan efektif apabila dalam penyampaian intensi penulis merupakan tujuan setiap proses penerjemahan. Keefektifan terjemahan ditentuakan oleh tiga faktor: 1. Derajat pengetahuan penerjemah, 2. Derajat pencapaian tujuan penerjemahan, dan 3. Derajat kepuasan penerjemah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar